Selasa, 01 Januari 2013

MELODI MALAM

#awal

Aku sudah memutuskan untuk hidup dengan jalanku, dengan duniaku, dengan pilihanku, dan dengan semua angan-anganku. semua kumulai dengan tekadku akan semua keganjalan-keganjalan dalam
hidupku, hidup yang tidak sama
dengan manusia yang mereka sebut "normal" pada umumnya.

•••

Kubuka pintu kayu berwarna cokelat yang sudah pudar dan retak, kurasa pintu ini sudah cukup tua, terlihat dari cat-catnya pun sudah sedikit keropos, serta bunyi ganjil menyayat hati ketika aku membukanya.

"ini kamarnya, sudah saya bersihkan, kalo aa butuh pertolongan lagi, aa bisa bilang sama saya" ucap Bi iroh, sipenjaga kost-kostan.

Sekilas, melihat Bi iroh aku merasa sedikit aneh, entah mengapa Bi iroh selalu saja membawa sapu lidi ketika berada diruangan rumah kostan ini. aku hanya heran , apa lagi yang harus dia bersihkan, lantai disini sudah bersih kurasa, dan tidak da debu pula yang menempel pada gorden2 jendela . ya , terkecuali sarang laba-laba yang tepat menjaring di sudut kamarku yang mungkin lupa ia bersihkan.

Ruangan kamarku sudah lebih baik dibanding dengan kemarin pada saat aku mensurvey tempat kostan ini. bedcover yang baru, pewangi ruangan yang baru,serta lantai yang kuinjak ini terasa sangat kesat. dan terutama cat tembok berwarna hijau ini sudah polos terlepas dari poster-poster rocker yang mungkin milik si-penyewa sebelum diriku.

Aku merebahkan tubuhku di kasur tua yang cukup untuk dua orang, kututup kedua mataku, kurasakan atmosfer yang tenang dan damai melekat dalam aura khayalku.
bagaimana tidak, suasana dirumah kost-kosatan ini memang pas sesuai dengan seleraku, tanpa AC-pun di tempat ini sudah sejuk, dan juga jauh dari suara gemuruh kendaraan bermotor.

aku menikmatinya, sejak aku tahu tempat ini pas untukku, untuk "duniaku"

hingga aku tertidur dan bermimpi...

•••

"tok tok tok" bunyi ketukan pintu itu terdengar mendengung dan membangunkan aku, aku membuka mataku dengan tenang, dan tepat diatas lemari baju jam dinding menunjukan pukul 9 malam.

beranjak aku dari mimpi, mimpi yang untuk kesekian kalinya sama dan terus menerus menghinghapi tidurku. kubuka pintu kamarku, dan sudah terpatung Bi iroh tepat di hadapanku.

"ada apa Bi?" tanyaku.

Bi Iroh terdiam, seolah tak mendengar pertanyaanku dan hanya melirik tajam sesekali melihat ruanganku .

"Bi .." tanyaku, Lagi.

"eh enggak a, cuma mau nanya! aa mau saya belikan makan malam atau mau memasak saja di dapur?" jawab bi Iroh.

"iya bi, terima kasih gausah repot-repot nanti saya masak saja" balasku, dengan tersenyum.

sedikit heran aku melihat tingkah sipenjaga kost ini, nampak sangat misterius dan tertutup, jika kulihat raut wajahnya, bi iroh nampak sedang menyembunyikan sesuatu. sesuatu yang misterius.

kulupakan soal Bi iroh, seketika aku mengingat hari esok, kuliahku ! ya... tugas kuliahku "oh my god!".

kubuka laptop pemberian dari ayahku yang sudah terpatri tepat diatas meja belajar. ya tuhan, aku jadi kangen dengan ayah dan ibu dirumah, padahal jika kufikir-fikir kembali ucapan mereka ada benarnya, seharusnya aku tetap tinggal dengan mereka daripada harus ngekost dan membayar uang sewa setiap bulannya. tapi , yasudahlah , aku sudah memutuskan untuk sendiri, untuk hidup dengan yang kusebut "duniaku".

waktu sudah menujukan pukul 1 malam, dan tanpa terasa tugasku tentang hukum internasional-pun rampung ku selesaikan hingga detail, ya semoga saja semester ini nilaiku semakin membaik.

Kurenggangkan otot-ototku, terutama jari-jemari dan punggungku karena terlalu lama membungkuk. kutarik nafasku dalam-dalam, kurasakan lagi suasana nyamannya kamar ini. sungguh tenang dan sejuk, sangat sejuk. aku seperti berada pada suatu ruangan yang mungkin hanya akulah satu-satunya mahluk yang dihidup disini.

lokasi kamarku tepat berada pada urutan paling pojok, kamarku bernomor 9 dan berdekatan dengan kamar mandi. dan berutungnya lagi, jika kubuka jendela didekat meja belajarku aku dapat melihat jelas indahnya taman kost-kostan ini.

terdiamku dalam malam, otakku kembali berputar kemasa ganjil. aku masih sedikit bingung dan penasaran soal bi iroh, sapu lidi, serta kamar ini,konon katanya kamar ini sudah tidak ada yang mengisi lagi selama hampir 1 tahun. padahal jika melihat keadaan kamar ini, kamar ini adalah kamar paling nyaman dibandingkan kamar-kamar yang lainnya.

"ah sudahlah, pusing-pusing amat, yang jelas niatku untuk menulis tetap berjalan tanpa hambatan" gumanku sendiri sembari mematikan laptopku.

#cerita-cerita usang

Jam Mata kuliah hukum Internasional-pun selesai, waktu sudah menunjukan pukul 2 siang dan gundah gulana kecemasan hati akan tugas nampak mulai enyah sedikit-demi sedikit. kurasa aku akan mendapat nilai A di semester ini, karena tak ada satu tugaspun dalam mata kuliah pak Sitorus ini aku lewatkan.

"Heeeeerrrrrry!" teriak melengking seseorang dari arah belakang kursiku.

"berisik centil!" balasku, sembari merapihkan isi tasku.

Tiba-tiba saja Mona menghampiriku lalu terduduk tepat berada disampingku bagaikan kilatan petir.

"eh gimana soal kost-kostan loe itu, udah dapet ?" tanya si Gadis berponi itu.

"udah , dan malahan kostan gue ini sesuai banget sama selera gue"

"ya .. ya .. ya .. syukur deh, tapi kapan-kapan gue boleh ya main tempat loe?"

"bolehlah, asaaaaal..."

"asal apaan?..."

"asal loe kuat liat setan"

Mendengar ucapanku, Mona merengek ketakutan dan manja-manja padaku, aku tahu dia teramat takut dan sensi dengn hal-hal berbau "dunia lain" padahal aku hanya bercanda saja mendeskripsikan bahwa kostan ku berhantu. lucunya, pernah suatu saat aku menakutinya dengan voice note horror dan gara-gara voice note itu aku dan dia puasa berteman selama hampir satu minggu.

"udah ah , berisik ! ayoo cari makan gue laper, lagian gue kan cuma bercanda mon " tambahku dan menyeret sigadis cengeng itu.

•••

aku dan Mona sudah seperti kakak beradik. ya meskipun umur kita sebaya, namun aku jauh lebih tua 1 hari jika melihat tanggal, bulan, dan tahun kelahiran kita.

awalnya kukira Mona gadis yang angkuh dan sombong, bagaimana tidak, jika melihat gaya dia berpakaian, handphone canggih yang ia pegang, dan mobil yang selalu membawanya kemanapun ia mau, kurasa Mona salah masuk perguruan tinggi.

"mon loe udah tau cerita soal senior kita yang katanya diculik setahun lalu dan sampe sekarang gak ketemu" tanyaku, dan tanganku yang tetap asik memotong sosis-sosis extra besar .

"ah katanya gosip! dia gak diculik tapi pulang kampung karena gak mampu bayar kuliah lagi" jawab mona . "udah ah jangan bahas begituan, serem! klo loe bahas lagi gue marah besar"

percuma memang jika aku bercerita mengenai sebuah kenganjalan-keganjalan pada gadis ini, yang ada di otaknya mungkin hanya ada kuliah, shoping, dan traveling.

Namun, entah kenapa hidupku akhir-akhir ini teramat amat sangat serba ingin tahu, bahkan yang seharusnya bukan urusanku aku masih saja ingin tahu, segalanya, semuanya.

Mona mengantarku pulang, lebih tepatnya bukan pulang tapi kembali ke dalam duniaku. setelah menghabiskan waktu bersama sepulang kuliah, rasanya sudah tidak terasa hari ini aku lewatkan bersamanya, tak kusangka waktu sudah tepat pukul 8 malam dan akupun telah sampai dipersembunyianku "rumah kost".

waktu memang terasa berjalan sangat amat cepat. mobil sedan bermerek kenamaan milik mona sudah melesat jauh dan hilang dari pandanganku. aku berjalan merayap asing menuju rumah . entah mengapa aku merasa sepeti ada yang sedang memeperhatikanku dari ujung seberang jalan. tapi melihat langit yang mulai gelap rasanya tak penting untuk kufikirkan.

sampailah aku dikamar impianku, namun fikirku semakin penasaran dan bertanya-tanya. aneh ! sangat aneh , seketika aku turun dari mobil Mona didepan pagar rumah kost, aku seperti melihat seorang wanita sedang berteduh di bawah pohon di seberang jalan. dan herannya lagi, apa yang sedang ia lakukan disana, bahkan hujannya pun sudah mulai reda, dan akan tetapi dia hanya terpatung sendiri juga tidak pergi kemana-mana.

aku memang tidak terlalu jelas melihat wajahnya, namun yang kulihat jelas, pakaiannya memang sedikit basah dan rambutnya yang lepek terkena percikan air hujan nampak terlihat kusam.

kusimpan tasku diatas kasur, aku semakin penasaran. kuputuskan untuk pergi kedepan teras rumah dan melihat-nya lagi. ya ! aku memberanikan diri dan berniat untuk menolongnya, kasihan. mungkin orang itu sedang tersesat.

belum sampai aku melewati lorong kamar kostan. seorang lelaki bertubuh kekar tinggi besar melesat keluar dari pintu kamar nomor 5 dan melihatku cukup tajam.

"jangan keluar lewat isya kalo disini!" ucapnya, sipenyewa kamar nomor 5, seorang lelaki sekitaran umur 26 itu.

"ah tidak ko.."jawabku sedikit terbata-bata "aku hanya mau mengecek saja, kulihat tadi diseberang jalan depan pagar ada seorang wanita sedang berteduh sendirian, aku kasihan!"

"acuhkan saja! paling-paling dia hanya mau menengok penghuni baru rumah ini saja" tukasnya , lagi.

"saya Herry !" sapaku sembari memberikan salam tanganku.

"gue Doni! yaudah, intinya inget kata gue, jangan keluar rumah jika selepas isya" balasnya , dan sekali lagi dia menegaskanku.

Doni melesat menuju dapur, aku melihatnya berjalan santai dengan biasa saja tanpa merasakan keanehan-keanehan seperti yang aku rasakan.

Jujur, sampai saat ini aku belum berani mengelilingi seluruh ruangan fasilitas rumah kostan ini dengan leluasa. mulai dari dapur, ruang televisi, bahkan perpustakaan kecil didekat ruang kumpul belakang. aku masih sedikit "dingin" untuk berjalan-jalan sendirian disini.

ucapan Doni mengurunkan niatku. kuputuskan untuk kembali kekamar, dalam fikirku kurasa gadis yang sedang berteduh tadi sudah hilang dan pulang ke rumahnya. dan untuk apa juga aku penasaran dengan gadis tadi, mungkin belum tentu juga aku menghampirinya dan dia menerima pertolonganku.

•••

kubuka laptopku, dan kulihat tanggal merah tertera dalam layar laptopku. bersyukur bahwa besok adalah hari jumat dan itu pertanda tidak ada mata kuliah di hari jumat karena hari besar. intinya malam ini aku benar-benar bisa santai dan fokus untuk "menulis".

kubuka beberapa file-file ceritaku yang kusimpan dalam satu folder khusus. aku mengamati setiap judul yang kubuat, ya ! aku memang teramat sangat hobi menulis. meskipun tulisanku belum pernah aku coba untuk bekerja sama dengan penerbit, hanya hobi saja sejak aku duduk di bangku SMP.

terlebih aku senang menulis jika aku sudah menuliskan kisah nyata yang benar-benar aku rasakan dan aku lihat, atau mungkin kejadian nyata orang lain yang aku tulis. bayangkan saja, bagaimana rasanya jika sebuah tulisan memberikan isi palsu kepada sipembaca, bukankah itu sama saja dengan memanipulasi fikiran kita untuk membaayangkan cerita palsu.

tetapi aku tidak mau arrogant untuk sebuah karya, karena karya seni itu luas. ini hanya pemikiranku saja karena aku saat ini sedang duduk di bangku kuliah yang segalanya mengenai fakta, jadi rasanya tak etis saja aku membuat cerita fiktif. menurut pandanganku bukankah lebih baik karya itu jujur meskipun buruk, daripada bagus tapi dibuat-buat.

•••

pagi yang cerah dihari jumat, bagaimana tidak, udara yang segar yang masuk kedalam kamar ketika membuka jendela. tidak adanya kegaduhan huru-hara jalanan, serta indahnya nyanyian-nyanyian burung berkicau parau memainkan melodi ditelinga.

kuhirup udara segar pagi ini, sejuk, sangat sejuk. kurasa ini pagi pertama paling damai sejak aku tinggal dirumah kost ini, sangat nyaman.

kuputuskan untuk tidak pergi kemanapun hari ini, meskipun Mona sudah mengirimi ku sms untuk ikut pergi nonton film baru. tapi itu tidak mengoyahkanku, aku butuh waktu banyak untuk berkenalan dengan duniaku ini, aku butuh bersosialisasi dengan sekitar dan penghuni rumah kost.

udara sejuk seolah membiusku terdiam dan berkencan dengan alam, tiupan angin pada daun-daun dan bunga-bunga indah di dekat kolam ikan seolah kulihat sedang menari riang dipagi ini. sungguh pemandangn yang jarang.

terdudukku disebuah kursi rotan di teras belakang rumah, jus jeruk segar dipagi hari seolah menambah segarnya hari ini.

seseorang menyapaku, menyapa dengan suara berat dan renyah yang sempat terngiang di memori telinga.

"hari libur gak pergi jalan sama pacar?" ucap seseorang itu yang kemudian duduk disamping kananku.

"ah tidak, hari ini aku ingin berkenalan saja dengan lingkungan disini" jawabku ramah.

tak lain seseorang itu adalah Doni, si kamar nomor 5 yang kemudian asik menyeruput cokelat panas di gelas kaca. Kurasa lelaki ini termasuk kategori yang ramah, dia tak ragu menyapaku. ya meskipun seharusnya akulah yang harus lebih dulu melakukan pendekatan sosial.

"kamu sendiri tidak pergi kemana-mana?" tanyaku.

"kalo gue sih sekitar jam 1 mau pergi nge-gym" jawabnya, lalu tersenyum.

"ohh..." sahutku " iya sih gak heran, badan kamu bidang dan kekar ya"

Doni hanya membalasku dengan senyuman lalu menyeruput isi gelas kaca. sungguh ramah, biasanya seorang lelaki yang melakukan olah raga "gym" akan tinggi hati dan memamerkan setiap ototnya ketika mendapat pujian. namun, berbeda dengan Doni. nilai tambah pada tubuhnya teramat menjadi sangat mahal akan kesederhanaannya.

"kalau boleh tahu, kemana ya penghuni kamar-kamar lainnya, sampe saat ini aku hanya tahu kamu dan bi Iroh saja dirumah ini"

"ada" jawabnya "si penghuni kamar nomer 2 lagi pulang kampung ke bogor, dan yang kamar nomor 6 katanya sih lagi kemping sama mapala dikampusnya" jelasnya, lengkap.

"oh... jadi dari 9 kamar disini hanya ada 4 penghuni saja?"

"iyah, dan rata-rata yang bisa tinggal disini bermental berani kayak loe"

"berani ? maksudnya"

"ya berani, untuk sekalangan manusia penakut jika melihat rumah ini dari depan pagar saja rasanya mereka akan menilai rumah ini seperti melihat rumah tua belanda dan seram, bukan?"

"iya juga sih! tapi justru aku menyukai tempat-tempat yang tenang dan yaa seperti ini"

"enggak heran ko gue, ngeliat gaya lo nampaknya elo tipikal orang yang senang dengan kesunyian"

percakapanku dengan Doni semakin memanjang, dengan bahasan mengenai rumah ini, bahkan hingga tentang penghuni-penghuni sebelumnya yang hanya bertahan satu atau dua bulan saja karena katanya rumah ini angker dan dihuni oleh dunia lain. dan semisal penampakan hantu pocong di toilet ketika ada yang sedang berkaca, jejak kaki berdarah di ruangan televisi, suara tangisan bayi, bahkan yang paling menyeramkan adalah penampakan kuntilanak di kamar setiap malam jumat.

semua cerita yang kudengar dari mulut Doni mendeskripsikan tentang Misteri rumah kost ini menjadi angker. keganjalan-keganjalan, keanehan, bahkan yang terparah adalah soal hilangnya sipenghuni kamar nomor 9 setahun lalu. ya ! kamar nomor 9 yang tak lain adalah kamarku saat ini yang sedikit membuat bulu kudukku merinding ketika kutahu penghuni sebelumku hilang tanpa kabar.

tapi aku lebih mempercayai kenyataan atau fakta, seperi apa yang dikatanan dosen ilmu pidana, pak Ilham "manusia yang bijak adalah mereka yang tidak akan percaya sesuatu hal jika hanya mendengar. tetapi, harus melihatnya dengan kedua mata".

dengan kata lain, aku tidak akan sepenuhnya mempercayai cerita-cerita yang bersumber satu arah. mungkin rasa percayaku pada Doni hanya sekitar 50% saja, itupun dikarenakan adanya beberapa kejadian ganjil seperti wanita di seberang jalan kemarin dan tatapan misterius bi Iroh ketika melihat ruangan kamarku.

•••

aku berlari menuju ruang televisi, aku mendengar suara sesuatu sedang terjatuh disini, seperti ada suara bantingan yang cukup keras.namun, anehnya sungguh heran aku tidak melihat sesuatu hal apapun yang terjadi disini. kulihat lantai disini bersih seperti biasanya, bahkan meja serta sofapun terlihat jauh dari kata berantakan. masih tertata sangat rapih, dan "sunyi".

"lebih baik jangan menghiraukan suara-suara yang aneh! disini memang suka ada yang jahil" ucap Bi Iroh yang tiba-tiba sudah berada tepat dibelakang ku.

jujur, aku sedikit merinding akan hal tadi, suara itu sangat jelas aku dengar sampai ke lorong kamarku yang cukup jauh dari ruang televisi. ditambah melihat bi Iroh yang tiba-tiba muncul dibelakangku tanpa terdengar jejak kaki membuatku semakin kaget.

"lebih baik aa kembali ke kamar dan tidur, aa sudah terlihat cape"

berfikirku panjang akan hal tadi,teringat cerita Doni soal jejak kaki berdarah di ruang televisi, bulu kudukku merinding, seketika suasana semakin dingin dari biasanya. jika adapun jejak kaki berdarah disana herannya aku tak melihat apapun, aneh. sangat aneh!

#bayang-bayang mimpi


bayangan hitam sekelebat menampakan diri meski samar-samar, kakiku berjalan mengikuti arah kemana bayangan itu yang seolah mengajakku untuk mengikutinya. keringat dingin bercucururan seperti tersiram menggelora diseluruh tubuhku dan jantungku berdegup 3 kali lebih kencang dari biasanya. bayangan apakah itu, meski samar namun mengayun-ngayun di udara seperti sedang menari-nari.

rasa penasaranku mengalahkan rasa takut yang sebenarnya ini bukanlah hal baru, pernah aku melihat sesosok pocong atau wanita bergaun putih yang menampakan diri tanp sengaja kulihat. namun sudah tak asing untukku. tapi ini, apa ini ?

...

terbangunku dalam ilusi mimpi, aku sudah tak asing lagi dengan mimpi tadi, mungkin ini mimpi yang kesekian kalinya sama. pasrahku akan dilema tentang bunga tidur, jika adapun itu pertanda aku berharap iti semua akan menandakan hal-hal baik saja.

"hari ini tidak kuliah a" tanya bi Iroh yang sembari serius menyapu lantai teras depan.
"kuliah sore bi"jawabku " bi, bibi percaya dengan hantu atau setan?" tambahku

bi Iroh menatapku tajam, ia berhenti menyapu lantai itu. tatapnya seakan ingin menerkamku, bi iroh seperti marah. namun , apakah ada yang salah dengan pertanyaanku.

"ah sudahlah bi, aku hanya bercanda" gumamku, sembari tersenyum sungkan.

"bibi percaya hal gaib, karena sebenarnya hidup kita berdampingan dengan mereka dan saling membutuhkan" jawab bi iroh , lugas.

apa yang dimaksud bi iroh manusia dn hantu atau setan itu saling membutuhkan, apa yang ia maksud.

"nanti malam pemilik kostan akan datang, seperti biasanya akan ada perjamuan makan malam bersama tepat pukul 9, bibi harap aa ikut bergabung"

"oh iya bi, tentu"


...

sepanjang jam mata kuliah otakku seperti sangat tak karuan, bayangan ilusi mimpi dan misteri kostan ku teramat menyita pemikiranku akhir-akhir ini. entah mengapa, aku seperti terpanggil untuk turut serta dalam cerita aneh ini.

hal itupun membuat Mona kesal padaku, sepanjang jam mata kuliah aku hanya melamun dan mengacuhkannya tanpa kusengaja. bahkan hingga jam mata kuliahku selesai pun aku masih dalam pemikiran "misteri".

"marah , sorry deh ! aku traktir km makan ya .." ucapku sembari mengejar Mona sepanjang lorong gedung.

"tauk ah, bete ! padahal gue udh manggil elo bisik-bisik beberapa kali" jawab mona. sembari tetap berjalan dengan pandangan lurus dan acuh.

" iyaa sorry , emang ada apaan ?"

"gak nafsu ngomong nih, besok deh !"

Selasa, 23 Oktober 2012

Mini konser Herry Garena


Hai Garenation ! Ini dia rentetan lagu-lagu yang dibawain di mini concert "Herry Garena" at Metro Indah Mall Bandung 20 oktober 2012

Dicek deh ! file by @annisfau

Garena Club - lets go to the dance (Cover)
http://m.youtube.com/watch?feature=plcp&v=-UZGudOiLo8

Herry Garena - Galau
http://m.youtube.com/watch?feature=plcp&v=4aB0oiR0iU4

Herry Garena - bukan milikmu (cover)
http://m.youtube.com/watch?feature=plcp&v=WqPDREaZIy4

Herry Garena - Oh Baby
http://m.youtube.com/watch?feature=plcp&v=Yd5dH5atBck

GARENACLUB - Lewat Semesta (cover)
http://m.youtube.com/watch?feature=plcp&v=u79-70wBpI0

Herry Garena - lagu Cintaku
http://m.youtube.com/watch?feature=plcp&v=u79-70wBpI0

Herry Garena - Jangan Pergi
http://m.youtube.com/watch?feature=plcp&v=u79-70wBpI0

GARENACLUB - On the Floor ( Cover )
http://m.youtube.com/watch?feature=plcp&v=2eqN9FpmV7Q

Dicek yaa , dukung terus Herry Garena dan GarenaClub
Dan jangan lupa aktifkan RBT
"jangan pergi" :

•hits single (Jangan Pergi) •download http://bit.ly/K545JS

•RBT : TELKOMSEL (JPGAK ke 1212) INDOSAT ( SET 0644879 ke 808) XL (10906586 ke 1818)

Press Release "Herry Garena"

Herry Garena, Penyanyi Solo bergenre Pop pendatang baru kelahiran Kota Bandung 15 September 1990 ini sejak awal tahun 2012 sudah memulai kariernya di belantika musik Indonesia .

Bermula dari salah satu ajang pencarian bakat terkemuka di Bandung ( Mojang Jajaka ) ia mulai percaya diri akan talenta yang ia miliki dalam tarik suara dan kecerdasannya dalam bidang seni.

Lelaki yang sering disapa "Garena" ini memang memiliki hobi bernyanyi sejak kecil, hingga pada awal tahun 2012 ia memulai dan memberanikan diri untuk masuk ke dapur rekaman dengan 4 lagu hasil ciptaan dia sendiri, lagu tersebut diantaranya ( Lagu Cintaku , Oh Baby , Galau , dan Jangan Pergi )

Dan , lagu berjudul ( Jangan Pergi ) menjadi salah satu Hits andalannya, bagaimana tidak, tak ragu ia mengandeng "Sharena Rizky" bintang FTV sebagai model Video Clipnya , hingga Video clipnya tayang disalah satu stasiun televisi nomor 1 di indonesia , juga karena hits single berjudul (Jangan Pergi) ini ia sempat di undang ke acara "INBOX" yang sebagai barometer musik Indonesia . Dan karena hal tersebut banyak juga acara-acara televisi dan off air yang mengundangnya sebagai bintang tamu.

Berikut beberapa prestasi akademika yang pernah diraih oleh Herry Garena :

•Ketua Osis SMA BPI 1 Bandung 2006-2007
•Top 10 Mojang Jajaka 2010
•Duta Pariwisata Kab. Bandung 2011

Dan berikut beberapa Prestasi / event dalam bidang menyanyi :

•Guest Star MOKA 2011
•Guest Star Launching Seblak Maicih bersama SM*SH
•Guest Star APCA Ramadhan Fashion Week
•Guest Star 2anniversary Boy Shop By A bersama Super 9 Boys
•Guest Star MOKA 2012
•Guest Star Pemilihan Boy and Girl band Indonesia
•INBOX SCTV
•MNC STARLITE
•Guest star White sensation bersama Ello dan Marcell
•dan lain-lain

Kamis, 09 Agustus 2012

di cek ya garenation1 ini pertama kali oppa tampil on air loh di acara inbox liat dah rambutnya ala ala apa gitu bahahaha

yuk garenation1 di cek video kedua oppa herry garena-oh baby.oppanya ganteng bangetloh ga bakal nyesel dah malahan bikin kita terus terusan pengen liat video ini terus bahahahaha 



ini video clip herry garena-jangan pergi. dan dia video clip ada sharena jugaloh yuk di cek yuukkkkk garenation1

Sabtu, 23 Juni 2012

"Gadis Artis"

(1)

"what The !" kesalku dalam hati yang sembari memandangi jam tangan Hermes limited edition yang kubeli diparis tahun lalu.

Kesal ! Bagaimana tidak ? Aku sudah bosan terpaku layaknya patung yang duduk sendirian di Starbuck caffe Bandara ini dan hampir berakar menunggu seorang lelaki entah berantah yang bahkan aku tak pernah bertemu sebelumnya.

"mama , Diana kesel ! Koq si Wildan itu belum nonggol-nonggol dari tadi, udah hampir tiga jam dan dua gelas kopi aku nungguin" ucapku di telfon dengan nada rendah.

"sabar ! Mungkin pesawatnya delay, intinya kamu gak boleh kabur, just stay there sayang, kalau kamu kabur, tahu sendiri hukumannya" jelas mama

"ya ya ya ... I know" balasku, lemas.

Hukuman ? Aku tak mau mengingat-ingat hal itu, aku lebih baik pasrah dan menerima saja apa yang menimpaku saat ini dibandingkan kan harus mendapat hukuman itu, apa kabar dengan karierku nanti, oh My god !

Hari Sudah hampir gelap, dan aku benar-benar sudah menjadi salah satu pusat perhatian di Caffe ini, bahkan ada beberapa orang yang mulai mengenali dan membicarakan aku, bahkan sampai ada juga beberapa orang yang menghampiriku dan meminta berfoto denganku.

fikirku benar-benar teramat kacau, emosi ini semakin membelenggu seisi nafsuku dengan sempurna, namun apa daya aku harus tetap terlihat santai, tersenyum, rileks, dan nyaman "As always"

"Diana Casandra !" tanya seorang lelaki bertubuh kekar kira-kita berumur 28 tahun, bergaya casual modis, berwajah sedikit oriental, berambut jambul tipis dan berbebankan sebuah koper berukuran besar berwarna hitam itu.

"iya" balasku dengan tersenyum sembari kurapihkan poni dan rambutku dan bersiap-siap memasang senyum dahsyat untuk berfoto

"mau foto bareng yah Mas, silahkan duduk disamping saya"

"oh bukan ... Aku ..."

"udah jangan malu-malu sini Mas duduk di sampingku, ayo keluarkan HPnya " tanpa basa basi aku menarik tangannya dan tak lama kemudian dia sudah duduk satu sofa denganku.

aku memang terkenal ramah, harus ramah lebih tepatnya, imageku populer dengan keramahan,kecantikan,keseksian dan tentunya kemampuanku dalam bernyanyi yang tak bisa diragukan lagi.

Sebuah Jepretan foto pun terabadikan di sebuah HP canggih milik lelaki yang lumayan keren itu, kurasa dia salah satu fans yang berkasta lumayan, Aku memandang lelaki itu dengan detail, tampan juga, mungkin menurutku dia pantas menjadi seorang bintang film atau bahkan menjadi model dalam video clipku kelak dari pada sekedar menjadi Fansku.

"kamu salah menilaiku Diana, aku jelas bukan Fansmu , aku Wildan!" tukas lelaki itu sembari menatapku tajam .

"Wildan Hardie ? From Singapore ?" tanyaku , melohok dengan nada shock.

"yes , ME ! Your future husband !" balasnya dengan senyum teramat lebar.

•••

Sepanjang perjalanan pulang aku tersenyum ramah dan memasang wajah seperti biasanya, kulihat Pak sopir memang mengenali siapa aku,
dia sesekali mencuri-curi pandang padaku di kaca spion utama.

Kutahan jiwa anarki ku pada pria menjemukan dan sok keren yang tepat duduk 15cm disampingku ini, sungguh tanpa dosa, dia sesekali melihatku dengan senyumnya yang menjijikkan itu.

"Who are you ? Gue nungguin loe hampir 4 jam kayak orang bego !" marahku, dan emosiku mulai memuncak tak terbelenggu ketika Taxi sudah melesat keluar dari zona amanku .

"Whats wrong with you ? Are you Crazy ?"

Kurasa bentakku terdengar hingga dalam rumah, tanpa lama mama dan papa sudah melesat menghampiriku dengan gugup dan tak heran melihat tingkahku yang meluap-luap seperti saat ini.

"Diana , sopan sama calon suamimu sayang , jangan kasar begitu" tukas mama sembari memandangku dengan wajah setengah marah.

"masuk kedalam! Marah-marah diluar rumah , kalo ada wartawannya bisa hancur karier kamu !" tambah Papah dengan mata hampir loncat dari tempatnya.

Melihat tingkah kedua orang tuaku , aku semakin tak kuasa untuk marah dan semakin benci dengan pria bernama "Wildan Hardie" yang sedang melongok heran didepanku .

•••

Belum aku merasa nyaman untuk sekedar bersandar di kasurku mama sudah mengetuk pintu kamarku dan memintaku untuk bicara dengannya.

Tolong jangan ingatkan aku dengan hukuman itu, aku pasrah, aku menyerah aku setuju akan apapun yang kalian inginkan, tolong . "Kumohon ..."

"Diana ! jangan sekali-sekali melakukan hal bodoh itu lagi , kamu ingat siapa dia kan?"

Aku hanya bisa mengangguk dan mengeratkan pelukku pada boneka sapi kucel Ku yang tak Kuingat lagi sudah berapa umur boneka ini, tapi hanya dialah satu-satunya sahabatku di rumah ini, boneka sapi si teman sejatiku.

"mama harap kamu mengerti , cuma kamu anak mama satu-satunya , mama ingin yang terbaik untukmu"

"iya mama , Diana ngerti !"

Mama tersenyum melihatku, mungkin dia teramat bahagia dengan ucapanku tadi, ya ! Terlihat raut tenang diwajahnya.

"Diana ngantuk , cape ! Boleh Diana tidur Ma "

Mama mencium keningku dengan senyuman,lalu melesat keluar dari kamarku.

(2)

pagi yang cerah di hari Minggu, kubuka jendela kamarku dengan ceria, terbayang banyaknya rencana-rencana indahku hari ini. bagaimana tidak setelah kemarin aku disibukkan dengan "pria sok keren"itu, hari ini aku ingin membahagiakan diriku dengan melampiaskan rasa kangenku pada kekasihku. Ya pacarku "Ardian Mananta"

Kunyalakan smartphoneku , tak heran dan seperti biasanya Ardian sudah mengirimku sebuah pesan di Blackberry messengerku, sudah menjadi ritual sehari-hari memang komunikasi By BBM ini memang sesuatu yang wajib.

Bahagiaku di pagi ini, Ardian memang teramat romantis, kurasa sosok lelaki sempurna memang ada padanya, sudah tampan, kaya, mapan, baik, romantis, aktor terkenal pula, dia tidak memiliki kekurangan, sama sekali tidak.

"ohhh ardiankuuu..." celetukku, sembari mendekapkan smartphoneku tepat di atas dada kiriku. Fikirku terbang melayang, membayangkan wajahnya, tingkahnya, segala memori-memori saat bersamanya.

"ekhem , yang lagi Happy ..." tiba-tiba suara batuk buatan dan kata-kata terdengar ditelinga kiri dan teramat dekat.

Kagetku ketika menoleh ! Sesosok lelaki setengah naked tanpa baju ini tiba-tiba saja ada disampingku. Sontak aku teriak dan menendangnya nya dengan spontan, aku seperti bagaikan melihat seorang aktor laga berbadan kekar kotak-kotak berotot kuat yang siap mencekal mangsanya.

"aww aww thats hurt !!" suara keluh sakit pria setengah bugil yang tergeletak dilantai dan persis disamping kasurku.

"gila ! Cowok edan ! Loe mau perkosa gue !" Tanyaku cepat, tegas dan dengan mata melotot tajam penuh benci.

"Dih , pede !" bangkitnya sembari mengelus perut sixpacknya yang kesakitan karena terkena tendangan super .

"terus ? Ngapain ke kamar gue dengan setengah bugil dan gak ketuk pintu dulu, cowok berengsek!"

" I just want to tell you , om dan tante sudah menunggu nona cantik di ruang makan" jawabnya dengan lemah.

"dan kenapa loe setengah bugil?"

"saya kalau tidur memang tidak suka pake baju, tadi tante sesudah membangunkan Ku, dan dia menyuruhku membangunkan mu, lalu saya lupa memakai baju, kebiasaan seperti ini ! sudah jelas belum Gadis artis Ku ?"jelas Wildan .

"KELUUUAAAAAAAAAR!!!"

•••

Selera makanku tak lahap seperti biasanya, nasi goreng yang kukunyah ini seperti serasa aku sedang mengunyah biji buah kedongdong. Apalagi melihat wajah sok keren pria aneh menjengkelkan yang tepat duduk didepanku ini. membuat moodku rusak berantakan saja, apalagi jika mengingat kejadian dia tadi yang tiba-tiba muncul setengah porno dihadapanku. "Horror"

"Sayang, mama dan papa nanti malam mau pergi ke Bandung sampe Minggu depan, mau bertemu dengan Keluarga om Burhan sekalian ngomongin jadwal pernikahan kamu sm Wildan, jadwal nyanyi kamu biar sementara Wildan yang urus ya" ucap mama, sembari memandangku dengan ceria.

"iya , biar calon suamimu ada kegiatan dijakarta dan tahu pekerjaanmu Diana" tambah papa , lalu memalingkan wajahnya dengan senyuman kearah lelaki itu "iya kan nak Wildan?"

"betul om, dengan senang hati, saya akan menjaga gadisku dengan baik" jawab Wildan yang setengah mengoda.

"pingin muntah gue lama-lama" cetusku, dan meraih segelas air putih lalu pergi meninggalkan suasana makan pagi menjijikkan itu.

•••

Sekitar pukul 8 malam tadi mama dan papa pamit padaku untuk pergi ke Bandung ditemani Pak Tarman, si supir keluarga. Sungguh malangnya nasibku, mungkin ketika mereka kembali kerumah dan nanti membawa kabar pasti pernikahanku Akhirnya status Single ini tak lama lagi akan berakhir. andai saja tak ada perjanjian itu, mungkin kisah cintaku tak akan sedramatis ini. "maybe"

"mbok Darmi lagi pulang kampung, selama mama dan papa gak ada di rumah urus sendiri segala kebutuhanmu!"tukasku sembari berjalan melewati Wildan yang asik menonton TV kabel.

"mau kemana kamu sudah dandan dan pakai high heels segala?" tanyanya, melotot.

"bukan urusan loe! Gausah ikut campur !"

Wildan melesat berlari kearah pintu dan mengacuhkan tontonanya, aku terperanjat, disertai rasa takut yang tiba-tiba muncul karena teringat kejadian gila di pagi hari tadi.

"tidak bisa! Kamu tidak ada jadwal nyanyi malam ini dan saya sebagai calon suamimu tidak mengizinkanmu pergi tak jelas!" sergah Wildan, dan langsung mencabut kunci dari lubang pintu dan menyimpannya disaku celananya.

"loe gila ! Gue mau ketemu pacar gue.." bentakku.

"you have a boyfriend ? Just broke up , kamu milikku mulai saat ini"

"GILA! Balikin kuncinya gak?"paksaku.

"NO!" lelaki itu berteriak dengan menyeramkan.

Sudah kelewatan, aku mulai geram akan tingkahnya, sudah sangat membuatku kehidupanku sengsara. Kuraih handphoneku di dalam tas LV vintage favoritku, akan kuadukan tingkahnya pada mama dan papa.

"halo ... Mam! "

Belum sempat aku berbicara panjang lebar Wildan mengambil Handphoneku dan membuangnya ke kolam renang yang tepat berada tak jauh dari ruang televisi .

"LOE GILA!" teriakku , sembari menjauh dari sesosok mahluk besar itu.

Aku shock, baru pertama kali aku mendapat perlakuan sekasar ini dari seorang lelaki, dan air mata pun mulai menetes tanpa kusadari. Aku berlari menuju kamarku dengan cepat, melihat tingakah lelaki memuakkan itu sungguh membuat aku teramat kesal disertai rasa takut dan kecewa.

•••

"boleh saya masuk, saya ingin menjelaskan sesuatu"

Suara Siapa lagi itu jika bukan Wildan si lelaki kasar dan aneh yang berada dibalik pintu kamarku, mau apa dia sekarang, setelah melarangku bertemu dengan Ardian, membuang smartphoneku, sekarang mau apalagi dia ?

"saya harap kamu mengerti, saya melakukan ini untuk kebaikan kamu"

Kebaikan? Kebaikan macam apa, non sense.

"gadisku, buka pintunya"

Gadis, ya saat ini aku masih seorang gadis, tapi tak lama lagi mungkin aku tak menyandang itu lagi, aku sudah tak gadis lagi, dan itu semua karenamu, kamu yang akan merenggut predikat gadisku.

Andai mama dan papa dulu tak membuat persetujuan seperti itu, mungkin saat ini aku tak akan sesediih ini, seterpuruk ini, mungkin hidupku dan karierku dan berjalan mulus, aman dan hidupku bahagia.

(3)

Manusia memang pintar, mampu menciptakan bahan-bahan seajaib ini. aku pun terkadang masih tergerak-heran, memang aku sudah dilahirkan cantik, banyak orang yang memuji begitu, namun alat ajaib atau make-up kit ini semakin membuatku bersinar, bahkan membuatku takjub akan diriku sendiri.

"semalem kamu nangis yah?" tanya Molly, si make-up artis profesional.

"koq loe tau?" balasku sembari memperhatikan wajahku di cermin besar didepanku.

"sembab banget nih matanya, harus double foundation dibagian mata!"

"iya, semalem gue disiksa cowok psyco! Mol" jawabku, pasrah.

"ah ngarang kamu ! Eh btw, itu calon suami km yang tante Mer suka ceritain ya?"tanya Molly sambil hati-hati memoles alat ajaib di daerah mataku.

"bukan! Gue belum punya calon suami, omongan nyokap gue jangan dianggap serius!"

"tapi dia oke juga loh, sempurna bgt ! Udah ganteng, tinggi, keren, ahh perfecto..." puji Molly , sambil melihat ke arah Wildan yang sedang duduk menunggu didekat pintu keluar ruangan make-up.

3 jam sudah aku merias wajahku, sudah menjadi hal biasa ketika aku bernyanyi. make-up, outfit dan hair do selalu kutampilkan dengan sempurna.

aku bernyanyi dengan ciri dan gaya khasku, aku memang dikenal "sexy" dan sedikit "nakal" padahal aku hanya menyesuaikan konsep lagu saja, untuk image pun itu management Ku yang membentukku menjadi sebuah Brand yang dikenal seperti sekarang ini.

Kenikmatan dalam pekerjaanku adalah ketika Aku mendengar Fans-Fansku meneriakkan namaku ketika aku sedang bernyanyi, bahkan banyak wartawannya yang memotretku tanpa izin dan membuat berita sesuka hati, ada juga fans fanatik yang mencariku sesudah manggung demi mendapatkan tanda tanganku. "Yes thats My life , As a star"

"kamu cantik dan amazing sekali malam ini !" celetuk si lelaki kasar itu sembari membantuku turun dari panggung.

"jadi maksud Loe kemaren-kemaren gue buruk rupa , HAH !" jawabku ketus dengan nada sedikit ditekan keras. Dan mencoba tetap stay cool dengan highheels super tinggi ini.

"No , Aku sadari kamu cantik , sejak kita ..."

Sekejap wartawan beriringan menyerbu dan mengerubungi Ku, aku tak mendengar lagi apa yang dikatakan Wildan padaku, bagiku omongannya hanya kosong, sekosong otaknya yang semena-mena memperlakukan aku dengan kasar.

"Freak!"

•••

Kutatap wajah itu dengan seksama dan tajam, seketika ucapan Molly tentang lelaki yang sedang menyetir disampingku ini melintas tanpa kuundang.

"baru sadar saya tampan?" celetuk Wildan sembari melihatku sesekali dan tersenyum seperti biasanya, seperti sejak pertama aku berjumpa dengannya di bandara.

"males gila" balasku, lalu kubuang pandanganku ke arah jalanan didepanku.

"saya tahu, kamu mulai menyukai saya, buktinya kamu memandang dengan begitu tajam" tambahnya lagi, dan dengan senyuman andalannya lagi .

Lalu Hening menyelimuti selama perjalanan dari salah satu stasiun TV swasta menuju arah rumahku di daerah Pondok Indah.

Wildan masih sesekali senyum-senyum sendiri seperti orang gila, aku merasakannya, meski aku tak menatapnya secara langsung, pasti akan sangat memuakkan dan membuat lelaki ini besar kepala.

"kita sudah sampai Gadis Artisku "

Wildan membukakan pintu mobil, dan seolah menjadikan aku ratu semalam yang maha cantik, dan aku seketika sempat terpesona akan tingkahnya.

"kenapa loe setuju buat merit sama gue, emang selama loe disingapore loe gak punya pacar?"

"itukah pertanyaan yang harus kamu lontarkan ketika kubukakan pintu untukmu. please just say thanks , itu cukup"

Menyesal aku bertanya, menyesal aku bersikap biasa saja padanya, dia membuatku malu dan memerahkan pipiku disertai rasa gondok.

"thanks, dan gue cuma nanya ! Gak lebih dan gausah dibahas lagi" kesalku, selalu.

"thats too heavy for tonight "

Raut mukaku mulai berubah menjadi musam, entah mahluk macam apa si Wildan ini,terkadang membuatku terpesona, tapi terkadang membuatku teramat murka.

•••

kenapa aku mulai susah untuk tidur, kenapa otak ini teringat kejadian porno dipagi hari, smartphone yang dilempar ke kolam renang, dan pintu mobil yang dibukakan untukku?

"ARGHHH !! Bisa gila gue ..." gerutuku sembari menghapus make-up.

Mungkin karena perutku yang terus bernyanyi yang membuatku susah untuk tertidur, dan make-up yang masih ON meski sudah hampir 8jam menempel. aku semakin tidak karuan, jam dinding dikamarku menujukkan pukul 1 pagi, sedangkan perutku benar-benar Terus mengganggu.

"saya lapar, buat kan saya makan" sahut suara seseorang yang kukenal betul dibalik pintuku.

Aku semakin menggerutu, aku memang sedang lapar, tapi rasa kesalku padanya melebihi rasa laparku.

"kamu tega melihat calon suamimu terkapar kalaparan didepan pintu kamarmu" tambahnya lagi , merengek manja.

"delivery aja ! Gue ngantuk" balasku , sembari aku membaringkan badanku di atas kasur empukku.

Aku menahan rasa laparku, sungguh ! Jika mengingat kerjadian- kejadian bersamanya tadi, semuanya membuatku hilang kendali.

"PRANG !!" suara seperti piring pecah parau terdengar ditelingaku , apa yang terjadi didapur ? ah mungkin hanya kucing , fikirku .

aku menutup mataku dan menahan gengsiku untuk menahan lapar karena enggan bertemu dengan si pria kasar itu , tapi lama kelamaan rasanya percuma aku memaksa menutup mata sedangkan perutku tersiksa .

dengan hati2 dan senyap seperti maling aku melangkahkan kakiku keluar kamar menuju dapur .

"OH MY GOD !"kagetku dalam hati ! terlihat sangat amat jorok dapurku yang lebih mirip dapur umum dan menjijikan , terlihat piring pecah, sendok berhamburan dan , tumpahan kecap serta saos berececeran dilantai .


"akhirnya kamu keluar juga" sahut suara itu .

aku membalikkan badanku menuju arah suara itu , suara Wildan .

"kamu lapar?"tanya wildan sembari tersenyum padaku .

"ah tidak aku hanya mau cek,ada keributan apa pagi2 buta dirumahku"

"kamu kalau lapar bilang saja , aku sudah memasak omlet dan kusimpan di tas meja makan"

bingungku , daripada aku mati kelaparan alangkah tidak etisnya .

terpaksa tanpa kuingat rasa malu aku sudah terduduk dimeja makan, perut ini benar-benar memalukan dan tak bisa berkompromi dengan gengsiku. kulihat senyum itu seolah puas memandangku yang seperti senang melihat kekalahan rasa marahku.